Jumat, 04 Maret 2011

budaya yang hampir terlupakan !

Hari ini aku bersama teman-temanku melakukan observasi ke Taman Mini Indonesia Indah , dan aku akan menceritakan kembali tentang rumah adat .

Negeri kita Indonesia memang sangat kaya sekali akan kebudayaan. Terdiri dari beribu2 pulau yang terpisah oleh laut menyebabkan Indonesia memiliki beraneka macam suku dengan kebudayaan dan kepercayaan yang sudah pasti berbeda-beda. Seluruh provinsi yang ada di Indonesia memiliki kebudayaan sendiri-sendiri. Salah satu kebudayaan yang sangat mencolok terdapat pada bentuk rumah adat mereka. Bentuk-bentuk rumah adat mereka memiliki nilai seni bangunan dan nilai estetika yang sangat tinggi. Rumah-rumah adat tersebut memiliki bentuk yang unik dan indah sehingga rumah-rumah adat tersebut merupakan warisan budaya bangsa yang patut dilestarikan.
Akan tetapi, seiring perkembangan zaman dan akibat kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia serta peristiwa penjajahan yang di alami Indonesia, rumah-rumah adat tersebut sudah hampir punah. Bahkan, di daerah-daerah asal rumah-rumah adat tersebut sudah jarang bahkan sama sekali tidak terlihat. Untunglah di Taman Mini Indonesia Indah, didirikan ajungan-ajungan setiap provinsi di Indonesia, sehingga kita bisa melihat bentuk-bentuk rumah adat yang dimiliki suku-suku yang mendiami provinsi-provinsi di Indonesia.

Hampir seluruh masyarakat Indonesia membangun rumah-rumah mereka dengan model desain seni bangunan luar negeri seperti amerika dan eropa. Jarang sekali yang menggunakan bentuk desain seni bangunan rumah adat. Padahal seni bangunan rumah adat yang dimiliki bangsa Indonesia tidak kalah bagusnya dengan desain seni bangunan eropa atau amerika. Selain itu, bentuk rumah adat seperti rumah panggung dapat menghindarkan kita dari bencana banjir, karena bentuknya yang seperti panggung itu. Selain itu, bentuk rumah seperti rumoh aceh juga dapat menghindarkan kita dari bencana tsunami karena bentuknya yang kokoh itu, serta bentuk rumah adat seperti rumah adat jambi dapat menghindarkan kita dari gempa bumi.
Memang begitulah sifat buruk yang nampak dari masyarakat kita sekarang ini. Kita sudah tidak lagi peduli dengan budaya kita sendiri. Tetapi, ketika negara lain mencuri kebudayaan kita, kita seperti kebakaran jenggot dan beramai-ramai mengecam tindakan mereka. Padahal, tanpa kita sadari, kitalah yang telah menyebabkan banyak kebudayaan kita mudah dicuri negara lain. Andaikan saja dari awal kita mau melestarikan kebudayaan bangsa dengan sungguh-sungguh, tentulah tidak akan terjadi kejadian semacam itu.
Kembali ke pembahasan mengenai rumah adat, rumah-rumah adat tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kebudayaan suku-suku atau masyarakat pemiliknya. Sesuai dengan observasi yang aku lakukan di Taman Mini Indonesia Indah, sebagian rumah-rumah adat yang ada di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Rumah Adat Provinsi Riau
Rumah adat di provinsi Riau bernama Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar. Ruangan rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan dapur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan dan musyawarah adat. Bentuk rumah tradisional daerah Riau pada umumnya adalah rumah panggung yang berdiri di atas tiang dengan bangunan persegi panjang. Draf beberapa bentuk rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya sama saja, kecuali rumah lontik. Rumah lontik yang dapat juga disebut Rumah Lancang karena rumah ini bentuk atapnya melengkung ke atas dan agak runcing sedangkan dindingnya miring keluar dengan miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal ini melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan terhadap sesama. Rumah Lontik diperkirakan dapat pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakan terdapat di daerah yang berbatasan dengan Sumatera Barat. Tangga rumah biasanya ganjil, bahkan Rumah Lontik beranak tangga lima, Hal ini ada kaitannya dengan ajaran Islam yakni rukun islam yang lima.
Tiang bentuknya bermacam-macam, ada yang persegi empat, segi enam, segi tujuh, segi delapan, dan segi sembilan. Segi empat melambangkan empat penjuru mata angin, sama dengan segi delapan. Maksudnya rumah itu akan mendatangkan rezeki dari segala penjuru. Tiang segi enam melambangkan Rukun Iman dalam ajaran Islam, maksudnya diharapkan pemilik rumah tetap taat dan beriman kepada Tuhannya. Tiang segi tujuh melambangkan tujuh tingkatan surga dan neraka. Kalau pemilik rumah baik dan soleh akan masuk ke salah satu tujuh tingkat surga, sebaliknya kalau jahat akan masuk salah satu tujuh tingkat neraka. Tiang persegi sembilan melambngkan bahwa pemilik rumah adalah orang mampu.
Tiang utama adalah tiang tuo, yang terletak pada pintu masuk sebelah kiri dan kanan, dan tiang ini tidak boleh disambung karena sebagai lambang rasa hormat kepada orang tua. Di daerah lain yakni pada suku Melayu di kepulauan, tiang yang dianggap penting adalah Tiang Seri yang terdapat di keempat sudut rumah. Baik Tiang Tuo maupun Tiang Seri tak boleh bersambung dan terbuat dari kayu yang besar.
2. Rumah adat Papua
Honai adalah rumah khas Papua. Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).

Rumah adat masyarakat wamena yaitu berbentuk lingkaran dengan penutup alang alang yang cukup tebal (> 10 cm). Rumah ini disebut "HONAI", Honai ini sering dijadikan simbol rumah adat khas Papua. Jika anda masuk kedalam Honai ini maka didalam cukup hangat dan gelap karena tidak terdapat jendela dan hanya ada satu pintu. Dimalam hari mereka menggunakan penerangan kayu bakar di dalam honai dengan menggali tanah didalammnya sebagai tungku, selain menerangi bara api juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Jika tidur mereka tidak mengunakan dipan atau kasur, mereka beralas rerumputan kering yang dibawa dari kebun atau ladang. Umumnya mereka mengganti jika sudah terlalu lama karena banyak terdapat kutu babi.


Dalam satu komplek perumahan dihuni satu keluarga dan terdapat beberapa Honai. Jumlah Honai menandakan jumlah istri yang ada, di sini banyak dijumpai laki-laki lebih dari satu istri terutama kepala suku atau Ondoafi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar